Pages

Senin, 09 Juli 2018

Dilema Pemilik Situs Web: lndonesia Darurat Keamanan Siber

"Saya ingin memulai usaha di Internet!"
   sumber gambar: lunarpages

Seiring berjalannya waktu, internet menjadi semakin akrab dengan kehidupan manusia. Dulu, mayoritas pengguna internet hanya menggunakan internet untuk beberapa hal seperti bermain game online, menggunakan media sosial, atau mencari referensi. Sekarang, kegiatan seperti belanja, membayar iuran, dan berinvestasi dapat dilakukan dengan mudah menggunakan internet. Sampai-sampai, berbagai perusahaan dan pihak pemerintah menggunakan internet agar sistem administrasi lebih mudah untuk dilakukan. Kondisi ini membuat internet semakin tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia. Mau tidak mau orang-orang mulai memasukkan internet dalam kehidupannya, dengan terkadang melupakan ancaman yang ada di internet karena kemudahan yang diberikannya.

Salah satu kemudahan itu adalah kemudahan seseorang untuk bertransaksi. Kita bisa melakukan investasi dengan lebih mudah, mencari donasi dan berdonasi, serta menggunakan berbagai situs berbayar yang memberikan kenyamanan lebih dalam hidup kita. Kemudahan tersebut merupakan fasilitas yang paling sering dimanfaatkan oleh produsen dan pihak penyedia jasa. Dengan adanya internet, mereka dengan mudah bisa memperkenalkan produk mereka sekaligus melakukan transaksi dengan mudah. Tentu saja selain menjadi konsumen, kita pun harus bisa memanfaatkan internet sebagai sumber keuangan kita sendiri. Kita harus bisa beradaptasi dan menggunakan internet untuk keuntungan kita. Salah satu langkah yang bisa kita lakukan adalah memiliki situs web sendiri. Situs web tersebut bisa kita sesuaikan sebagai media branding, situs jual beli online, start-up, atau platform-platform lainnya. Dengan memiliki situs web sendiri, perusahaan dan start-up kita akan terlihat lebih profesional.

Namun, dibalik kemudahan tersebut, kita harus ingat dengan ancaman-ancaman yang ada di internet. Seiring dengan berkembangnya internet, berbagai aspek negatif dari internet pun semakin berkembang. Salah satunya adalah ancaman siber. Ketika mendengar kata “ancaman siber” kata yang paling mungkin muncul di pikiran teman-teman adalah peretasan atau lebih dikenal dengan istilah hacking. Peretasan sendiri termasuk salah satu ancaman yang paling berbahaya dalam bidang internet. Masalahnya, peretasan tidak hanya mengacu pada perampokan uang semata. Peretas pun bisa mencuri dokumen-dokumen penting dan bisa mengancam kestabilan negara bahkan dunia. Biasanya, peretasan dilakukan melalui situs web. Para peretas akan berusaha membobol situs tertentu untuk mengambil data yan bisa menguntungkan mereka.

Sepanjang 2017 kemarin, banyak serangan siber yang berhasil membuat dunia panik dan menghasilkan kerugian yang sangat besar. Salah satu di antaranya adalah serangan wannacry yang kerugiannya dapat mencapai 53 triliun rupiah (sumber: merdeka). Saat itu, pemberitaan mengenai serangan wannacry begitu gencar. Orang-orang pun panik karena mereka menjadi korban dari tindakan peretasan tersebut. Tapi peretasan untuk mencuri uang tidak hanya bisa dilakukan dengan ransomware saja.

Pada tahun yang sama, seorang peretas muda melakukan peretasan dan membobol situs-situs dan berhasil mendapatkan 1,9 miliar rupiah (sumber: rappler). Dia melakukannya dengan mengambil data salah satu pengguna dan menggunakan data tersebut untuk mendapatkan uang. Contoh tersebut merupakan satu dari banyak peretasan yang ada di Indonesia. Bari-baru ini saja terjadi peretasan pada situs bawaslu (Badan Pengawas Pemilu), yang mempunyai fungsi sangat krusia. Pelaku mengaku bahwa ia melakukannya karena hanya iseng (sumber: republika). Padahal, tentu saja pada situs itu terdapat data-data penting dan penyalahgunaannya dapat menyebabkan ketidakstabilan negara Indonesia. Namun, dengan mudah peretas membobol situs bawaslu. Terlihat bahwa walaupun peretas tidak mempunyai motivasi besar untuk meretas situs web, mereka dapat dengan mudah melakukannya.

Kejadian-kejadian seperti itu menandakan masih rendahnya keamanan siber di Indonesia, khususnya keamanan situs web. Di Indonesia sendiri, belum terdapat sebuah badan pengamanan siber yang bekerja dengan baik. Saat ini Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) belum memiliki susunan organisasi tata kerja sehingga tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan optimal. Keadaan tersebut tentu saja tidak mendukung perkembangan platform-platform di Indonesia. Namun, tentu saja ancaman itu dapat diminimalisasi oleh pemilik situs web sendiri. Berbagai tindakan kriminal baru dilaporkan setelah kerugian sudah berjumlah besar. Itu pun masih melalui proses yang lama, menandakan masih ada kinerja yang kurang dari pihak pemerintah sendiri. Situs-situs web pemerintah sudah beberapa kali menjadi pemberitaan karena diretas.

Selain pemerintah pun, mayoritas masyarakat Indonesia tidak begitu memperhatikan seberapa pentingnya keamanan data yang mereka simpan di situs-situs pada internet. Salah satunya faktor kurangnya keamanan adalah banyak dari masyarakat Indonesia yang asal memilih kata sandi dan bahkan memberikan sandi mereka sendiri pada orang lain. Padahal, berkaca dari kasus peretasan 117 juta akun linkedIn pada tahun 2016, sudah terlihat bahwa memiliki kata sandi yang sama untuk berbagai akun merupakan hal yang membahayakan. Untuk tambahan, 117 juta data akun linkedIn tersebut dijual di darknet di mana penggunaannya sulit untuk dilacak.

Sehingga dapat disimpulkan terdapat dua cara untuk mencegah peretasan dan penyalahgunaan data. Pertama, kita sebagai pengguna harus dengan pintar melakuan manajemen terhadap data yang kita simpan pada internet. Kedua, para pemilik situs web harus bisa menjaga data yang mereka pegang. Untuk menangani ancaman tersebut, para pemilik situs web dapat menggunakan pengamanan transmisi data. Hal ini dilakukan dengan mengamankan data-data penting yang terdapat pada situs web menggunakan teknik enkripsi. Enkripsi data dilakukan melalui internet dan hanya bisa didekode pada server pemilik. Data-data tersebut biasanya berupa nama, kata sandi, informasi kartu kredit dan debit, serta berbagai data penting lainnya. Situs yang sudah melakukan enkripsi tersebut dinyatakan memiliki SSL Certificate (Secured Socket Layer). Situs yang menggunakan SSL melakukan pengamanan pada situs dan email situs web tersebut sehingga semua data yang terdapat dalam situs tersebut aman.

Setelah membaca fakta-fakta di atas, mungkin teman-teman akan berpikir ulang untuk memiliki situs web sendiri. Pertama, teman-teman harus mempunyai domain dan/hosting sendiri. Lalu teman-teman pun harus memiliki sistem keamanan agar situs teman-teman tidak mudah diretas. Fasilitas-fasilitas tersebut pasti mahal! Nah! Bila teman-teman berpikir begitu, teman-teman akan kecewa karena teman-teman salah namun senang karena ternyata harga yang dikeluarkan tidak membuat dompet teman-teman menjadi kurus!

Untuk saya, Dewaweb adalah jawaban yang tepat untuk memulai karir di internet. Saya memilih Dewaweb karena mereka adalah perusahaan penyedia cloud hosting yang aman, cepat, dan terpercaya. Saat ini mereka sudah mempunyai lebih dari 27.000 klien dan beberapa di antaranya merupakan perusahaan besar. Ditambah lagi, mereka memiliki ninja customer service yang siap membantu teman-teman ketika memiliki masalah. Hal ini merupakan nilai lebih bagi saya yang tidak mengenal IT terlalu dalam.

Dewaweb menyediakan jasa Hosting Murah dan Domain Murah. Mereka juga menyediakan jasa  SSL Certification sehingga data pada situs web teman-teman akan dienkripsi dengan aman dan transaksi tidak mudah diganggu oleh pihak-pihak nakal. Ditambah lagi (dan yang saya sangat suka), terdapat berbagai promo yang bisa teman-teman dapatkan sehingga teman-teman bisa mendapatkan deal yang semakin murah. Bahkan, Dewaweb menyediakan Domain Gratis bila teman-teman mempunyai paket hosting apa saja untuk satu tahun, sehingga teman-teman tidak harus membayar lebih untuk mempunyai domain. Paket yang mereka miliki pun beragam dengan tingkatan-tingkatan yang sesuai dengan kebutuhan teman-teman.

Sehingga, saya pun akhirnya memilih dewaweb sebagai penyedia jasa untuk situs web saya, dan saya ingin teman-teman merasakan kemudahan yang saya rasakan. Bila situs-situs web menjadi aman, tingkat keamanan siber di Indonesia pun akan meningkat. Yuk, ciptakan Indonesia yang memiliki keamanan siber yang tinggi!

Rabu, 28 Desember 2016

Rewind 2016

Aku pengen banget ngebuat rewind tentang 2016, tapi, karena the notes [1] udah ngecover dari Januari sampai Juni, jadi, paling kita bakal buat brief singkat apa yang  terjadi di semester pertama 2016 dan cerita panjang tentang apa yang terjadi di semester kedua 2016.

Basically, Januari-Juni, aku masih kelas 3 SMA. Keseharianku cuma di antara belajar di sekolah dan belajar di tempat bimbel. Not much of a life kalo kata aku. Kelas 3 SMA sangat-sangat membuat aku takut dan panik karena, semua keputusan dan hasil dibuat saat itu. Januari mulai, kelasku termasuk kelas yang ambis dan menyiapkan semua hal. Kami mulai dengan mempersiapkan aerobik kelas. Kami latihan dan latihan bersama pelatih kami (sebenarnya aku tidak berlatih karena you know, sakit kaki dan patah dan pakai tongkat).

Februari, bulan paling chaos dan paling ga belajar yang pernah ada di dunia. Guru sering ga masuk dan kami juga sibuk sendiri mempersiapkan ujian praktik. Aku dan teman-temanku beranggapan ujian praktik sangat menyeramkan dan ternyata, ujian praktik tidak semuanya menyeramkan, paling kimia yang memang harus teliti. Uprak terakhir dilaksanakan tanggal 27 Februari dimana itu adalah ujian praktik olahraga, buat cowcow, lari 8 keliling lapangan bali dan buat cewcew aerobik. Hari sebelumnya, kami latihan sampai jam 7 malam, dan ya, itu membuahkan hasil karena kami juara 1 aerobik. Selain semua ujian praktik yang ada, kami pun mendapat ranking angkatan dan mempersiapkan data-data untuk SNMPTN yang aku ga terlalu percaya pada keberuntunganku di SNMPTN karena pesaing-pesaingku super berat,

Maret, ujian praktik beres dan kami mempersiapkan ujian sekolah dan ujian nasional. Kami tidak henti-hentinya datang ke bimbel dan kami tidak henti-hentinya belajar. Kami anak rajin memang. But wait, siapa 'kami'? Kami itu aku maksudkan sebagai aku dan teman-teman seangkatanku. Kembali ke topik, intinya Maret adalah bulan belajar. Bukan belajar di sekolah, karena aku selalu mabal, tapi belajar di tempat bimbel, dimana aku tetap belajar bersama teman-teman sekelasku di sekolah. Kami belajar dengan menggunakan berlembar-lembar soal yang kami dapat dari internet atau kami forocopy dari teman-teman kami yang lain.

April, man coy, UN!!!! Inti dari UN adalah, kita ga peduli nilai kita, yang penting kita bisa dan UN itu fana. UN makan waktu 9 hari karena satu hari satu pelajaran dan setelah UN, muncul belajar intensif yang gilaaa itu yang namanya belajar 10 jam perhari emang beneran belajar 10 jam perhari. Aku ga pernah ngerasain beajar seniat itu dalam hidup aku, kecuali di bulan April ini. Tapi yang terpenting, pas Bulan April, aku patah kaki lagi untuk kedua kali, aku jadi harus berhenti belajar untuk intensif karena aku harus operasi.

Mei my bro, SBMPTN ada tanggal 31 Mei, wonderful sekali ya emang sebagai penutup bulan ke lima ini pakai SBMPTN. Mei awal aku masih recovery, aku di rumah belajar, membagi waktu sambil gawe ngebuat video angkatan. Aku ga pergi banyak, dan destinasi aku setiap hari cuma meja belajar dan kasur.

Juni. Juni ini bulan di mana aku cemas-cemas ga penting, tapi tetap bisa berkarya. Karena gabut, aku banyak membuat karya dari FBZ project yang sayangnya sekarang sudah aku hapus. Aku masih belum bisa keluar banyak, tapi aku masih bisa menikmati prom. Ya, prom! Aku sudah menceritakan prom dengan detail di post aku yang berjudul prom dan bisa dibaca sendiri lah ya.

Juli, aku mulai bisa main dan ke luar rumah lagi. Aku menikmati masa-masa liburanku karena aku takut kuliah akan memberikan kesibukan yang luar biasa di luar pikiran aku. Man. Aku habiskan waktu dengan teman, aku jalan-jalan dan aku basically mencoba menikmati hidup, karena, aku kebingungan dengan apa yang aku akan lakukan dengan kuliah. Kuliah membuat aku takut, dan hasil dari SBMPTN aku sangat sangat di luar ekspektasi sehingga, aku belum membuat antisipasi terhadap apa yang akan terjadi.

Kuliah dimulai. Agustus adalah awal bagi mahasiswa baru di institut di mana aku diterima. Aku mulai mengikuti serangkaian acara yang telah dipersiapkan khusus untuk mahasiswa baru agar dapat bertahan dan berprestasi di kampus ini. Setelah berbagai kegiatan, tentu saja kami juga menghadapi hari dan minggu pertama kami belajar selama di bangku perguruan tinggi. Kami mulai beradabtasi dengan lingkungan baru, cara belajar baru, dan tugas baru. Kami kemudian dikenalkan pada berbagai kepanitiaan dan unit kemahasiswaan disana. Lalu, kami pun memilih 'takdir' kami, kami memilih sistem pendidikan soft skill dan teman-teman kami.

September adalah awal kami memulai kehidupan yang sebenarnya. Kuliah kami bukan hanya tentang kelas, tapi tentang unit dan kepanitiaan. Kami mulai meng-explore dan kami mulai mencari jati diri kami. Kami mencoba banyak hal baru, dari mulai kantin-kantin yang ada, spot-spot yang nyaman, dan berbagai hal menarik lainnya bagi kami yang baru saja diterima di kampus tersebut. Aku masih bingung dengan apa yang aku lakukan. Aku sendiri masih mencari jawaban terbaik untuk semua ini. "Apa yang harus aku lakukan? Apa yang aku mau?", pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan di kepalaku karena aku sangat bingung. Tuhan memang selalu mempunyai alasan untuk apa yang ia berikan terhadap kita, namun, aku ingin tahu apa alasan dari apa yang dia berikan kepadaku.
.
.
.
LALU DATANGLAH UTS
.
.
Mungkin, karena ini adalah kali pertama kami melaksanakan UTS di kampus tersebut, kami pun masih bingung dengan apa yang sebenarnya kami harus lakukan. Kami melawati berbagai UTS dengan berbagai hasil yang mengejutkan, baik itu baik maupun buruk. Oktober juga adalah waktunya kami melaksanakan berbagai kaderisasi dari unit-unit dan atau kepanitiaan kami. Dari aku sendiri, Oktober adalah waktu dimana aku sangat menghindari perpus. Aku belajar, kita ga harus belajar di perpus untuk pintar, dan sejak itu, aku menjadi mahasiswa yang sangat jarang terlihat di perpus. Aku mulai disibukkan dengan berbagai hal-hal yang berbagi duniawi. Namun, aku bersyukur, aku memilih untuk mendapat pendidikan di unit kajian. Di situ, aku belajar banyak hal yang bahkan sebelumnya tidak pernah aku pikirkan bahwa ilmunya ada. Aku belajar mulai dari filsafat, literasi, metafisika, dan lain-lain. Di situ, aku juga belajar untuk lebih berani berbicara dan mengungkapkan pendapat. Aku mulai berani menjadi diriku sendiri.

Ketika November datang, maka, UTS II dan UAS pun makin mendekat. Tugas makin menumpuk dan kami bekernalan dengan teman kami, RBL fisika. Kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat sebuah alat pelontar. Selain itu, kami juga harus mengejar materi agar kami tidak keteteran saat mendekati ujian. Aku sendiri disibukkan dengan kaderisasi salah satu unit yang akan segera berakhir dan meminta kami untuk seminggu penuh mengerjakan tugas yang berat. Di sisi lain, unit kajianku juga masih kaderisasi dan melaksanakan kaderisasi khusus, dimana aku mendapat pembelajaran yang sangat berharga dengan melihat perspektif baru dari dunia. Selain itu, aku juga menjadi komisi disiplin untuk program pemira di kampusku. Aku melihat bagaimana manusia-manusia pintar ini berpikir secara kritis dan aku melihat bagaimana perang pikiran terjadi. Manusia memang menjadi subjek paling menarik menurutku.

Desember. Unit lainnya mulai mengadakan kaderisasi. Aku belum bilang ya, aku ikut empat unit. Nah, ujian berlangsung so does my unit. Selain itu, ada juga acara bersama fakultasku. Aku juga mengejar FBZ project yang tidak sempat aku kerjakan saat kuliah. Aku bisa menghitung, tugasku di bulan Desember lebih banyak dari tugasku di semester 1 ini. Lalu, di Desember ini, aku juga harus mulai merencanakan target FBZ 2017 yang sangat sangat menyita waktu. Aku harus membuat logo, program kerja, karya, dan lain sebagainya. Aku juga harus aktif di unit-unitku. Di sini, aku harus menyeimbangkan semua kegiatanku dan aku harus menyeimbangkan emosiku.

Intinya, 2016 adalah sebuah roller coaster. Aku tidak pernah menyangka, aku dapat berkembang sejauh ini dalam waktu satu tahun. Aku juga tidak menyangka bahwa aku berada di tempat ini sekarang. Tempat dimana aku tidak pernah tahu bahwa aku akan berdiri. Tapi, yang aku tahu, aku harus menutup tahun ini dengan bersyukur. Tahun ini adalah tahun yang tidak terduga, yang membuatku semakin dewasa. Tahun ini adalah tahun dimana semua keputusan penting dalam hidupku dibuat. Dari mulai SBMPTN sampai pilihan pilihan kecil lainnya seperti aku harus makan dimana atau pulang jam berapa.

Tahun ini, adalah tahun persiapan, year of preparation, seperti apa yang telah aku sampaikan tahun lalu, bahwa tahun ini, aku harus bersiap-siap dengan semua keputusanku. Aku malu, tentunya, karena tidak bisa menjalankan semua yang telah aku rencanakan. Aku juga malu karena tidak bisa berpegang teguh terhadap pendirianku. Tetapi, ketika aku melihat sejauh apa aku telah berjalan dari belakang, aku, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan emosiku, but, its something.

Jadi, heyy FBZ 2017, ready for year for decision?

Re: Resolusi Tahun Baru?

Setiap tahun, setiap orang, pasti mempunyai harapan baru. Biasanya, harapan-harapan itu dibuat dalam bentuk resolusi tahun baru. Aku juga termasuk orang yang ngebuat resolusi tahun baru dan aku juga lupa udah jalanin apa yang aku resolusikan atau engga. Malah, aku sendiri lupa resolusi tahun baru aku apa :( UNTUNGNYA, aku masih punya data dari resolusi tahun baru dari tahun kemarin, yang aku tulis di salah satu sosial media untuk curhat (iya aku butuh tempat buat curhat juga :( ). Nah itu penampakan dari curhatan aku


Judulnya, "My Wish List for 2016", dan sekarang kita bakal ngereview ketercapaian dari masing-masing wish list yang aku wish-kan.

1. Get to my first choice university
Yes! Alhamdullillah aku keterima di universitas pilihan pertama dengan jalur SBMPTN. Sayangnya, aku kurang spesifik dengan wish list aku karena aku cuma nulis universitynya tanpa jurusan atau fakultas yang aku inginkan, dan sekarang, bener sih aku masuk university yang aku inginkan, cuma jurusannya?

2. Study more
Not really, or maybe? Aku bukan orang yang sering banget belajar, tapi, aku rasa ada waktu-waktu di mana aku super rajin belajar? Tapi itu cuma fase yang sebentar dan ga berkelanjutan? Ya, intinya, kalo study more itu relatif lah. Karena, kalo bilang dari belajar pelajaran SMA atau kuliah, aku ga merasa belajar 100%, tapi kalo dibilang belajar pengalaman hidup, aku ngerasa kalo aku sangat sangat banyak belajar.

3. More self care but still selfless
Maksud dari kalimat ini adalah bahwa aku juga harus baik ke orang lain tanpa ngelupain diri aku sendiri. Which, kayaknya, ini cuma berjalan di bulan November karena di bulan-bulan lain, aku lupa dengan misi aku.

4. Be able to handle my emotion
Aku yakin yang ini berhasil kalo kita liat progressnya. Dari akhir 2015 sampai Oktober 2016, aku sangat sangat unstable. Tapi, untuk dua bulan terakhir, aku bisa bilang aku bangga karena emosi aku udah terkontrol dengan baik.

5. Get rid of toxic people in my life
I did. 

6. Be more helpful to people
I didn't

7. Get my shit together
This is the hardest so far man! Ternyata bahkan seorang yang dewasa dan berumur kepala tiga pun belum tentu bisa get their shit together. Tapi, aku bisa bilang, aku lebih mentogetherkan my shit lebih baik dari dua tahun sebelumnya, dan aku bangga dengan pencapaian aku.

Lets not talk about number eight daan langsung lanjut ke nomer 9. Sebenernya, masih ada satu lagi wish list yang aku ingin lakukan, yaitu....

pake jam tangan. Like really, aku pengen banget pake jam tangan karena aku butuh jam di setiap tempat. Pernah aku ujian ga pake jam tangan, dan ruangan itu tanpa jam  dan terlalu lama ngerjain satu soal dan akhirnya aku panik dan ngerjain soal lain secepat mungkin.

Nah, tulisan ini kedengeran kurang berkelas ya. Tapi yaa, aku pengen ngereview aja keberhasilan dan kegagalan aku tahun ini. Aku kira, ini salah satu hal yang ngebuat tahun aku berjadi bermakna dan ga jadi sampah aja

Okay, sampai ketemu di review 0f 2017 tahun depan!


Minggu, 11 Desember 2016

I'm A Quitter! | Shattered Stories

Aku, seperti orang-orang lainnya, juga menghabiskan waktuku untuk mencari jati diri. Salah satu contohnya adalah dengan mencoba banyak kegiatan sebagai hobi. Aku mecoba berbagai macam hal, seperti basket, futsal, softball, videography, photography, hacking, gaming, membaca komik, menonton anime, design grafik, dan masih banyak lainnya. Tapi, aku juga sudah meninggalkan hal-hal tersebut. Mungkin, bisa dilihat bahwa aku belum menemukan suatu hal yang benar-benar passionku.

Tapi, satu hal dari berbagai hal yang selalu aku lakukan adalah menulis.
Aku tidak tahu bagaimana pendapatmu, tapi menurutku, menulis adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku bisa mencurahkan perasaanku, pemikiranku, pendapatku, melalui tulisan. Aku suka dengan konsep bahwa kita bisa mengubah pemikiran seseorang dengan kumpulan dari huruf-huruf. Katika menulis, aku akhirnya bisa fokus memikirkan satu hal atau satu topik dan merangkumnya. Saat menulispun aku dapat menemukan ide baru dan membuka perspektifku. Karena dengan menulis, aku pun sekaligus membaca. Yap, membaca, karena, aku tahu yang aku tulis tidak bisa serta merta apa yang aku pikirkan aku tulis secara mentah-mentah saja. Saat aku menulis, aku harus mempertimbangkan bahasaku, aku harus mempertimbangkan kontenku dan aku harus berani mengambil tanggung jawab atas segala sesuatu yang aku tulis. Karena itu, kawan, aku merasa, saat menulis, aku berada pada state dimana otakku bekerja optimal. Aku akhirnya dapat melupakan kebosananku dan perhatianku terhadap dunia. Hanya aku, dan duniaku sendiri.

Selama enam tahun ke belakang terhitung dari dibuatnya tulisan ini, aku terus menulis. Aku bersumpah untuk tidak pernah menghapus apa yang aku telah tulis. Karena itu, hanyalah satu-satunya hal yang membuatku ingat bahwa aku pernah memiliki perspektif dan cara berpikir yang sangat berbeda dengan aku yang sekarang. Sebuah bukti bahwa aku berkembang, sebuah bukti bahwa aku belajar, jatuh, dan bangun, sampai sekarang aku menjadi diriku, untuk yang terbaik, dan yang terburuk.

I'm a quitter, really, but one thing I'll never quit, is writing.